Apa yang menarik dari peristiwa penampakan Yesus setelah bangkit

Prof. Herman Hanko

Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka [para perempuan yang datang ke kuburan Yesus pada Minggu pagi] dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya (Mat. 28:9). Kata Yesus kepadanya [Maria Magdalena]: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh. 20:17).

Seorang pembaca bertanya: “Mengapa Maria Magdalena dan Maria yang lain diizinkan untuk memeluk kaki Yesus di Matius 28:9, tetapi di dalam Yohanes 20:17 Yesus tidak mengizinkan Maria Magdalena menjamah-Nya?” Penanya ini keliru ketika ia menulis bahwa Maria Magdalena pernah tidak diizinkan untuk menjamah Yesus tetapi pernah diizinkan untuk memeluk kaki Yesus (Mat. 28:9).

Rangkaian dari peristiwa-peristiwa pada pagi kebangkitan yang mulia itu sangat mungkin adalah seperti ini. Pada subuh di hari Minggu itu, para perempuan yang telah menyaksikan penguburan Yesus (Mat. 27:61) kembali ke kuburan itu (Luk. 23:55-56). Tampaknya mereka lupa bahwa sebuah batu besar telah ditempatkan untuk menutupi pintu masuk ke dalam kuburan itu (Mrk. 16:3). Di antara para perempuan ini adalah Maria ibu dari Tuhan; Yohana; Maria Magdalena (Lukas menyebutnya Maria dari Magdala); Maria ibu Yakobus, Yoses (Yusuf), dan Salome; dan ibu dari anak-anak Zebedeus (Mat. 27:56; Mrk. 16:1; Luk. 23:55; 24:10).

Ketika para perempuan itu melihat bahwa batu tersebut sudah digulingkan dari pintu masuk ke dalam kuburan itu (Mrk. 16:4), Maria Magdalena segera menyimpulkan bahwa ada orang yang telah mencuri tubuh Tuhan. Maka ia berlari pulang untuk memberi tahu Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus (Yoh. 20:1-2). Dengan demikian, ia tidak menemani para perempuan itu sampai ke kuburan atau di dalam perjalanan mereka kembali ke Yerusalem.

Ketika mendengar laporan dari Maria Magdalena bahwa tubuh Tuhan telah dicuri, Petrus dan Yohanes berlari ke kuburan untuk mencari tahu sendiri (Yoh. 20:2-10). Maria Magdalena kembali ke kuburan menyusul Petrus dan Yohanes, namun ia sampai di sana ketika kedua murid itu sudah pergi (Yoh. 20:11 dst.). Lalu Tuhan menampakkan diri “mula-mula” kepada Maria Magdalena (Mrk. 16:9), dan kemudian kepada para perempuan yang sedang dalam perjalanan kembali dari kuburan ke Yerusalem.

Sepuluh kali penampakan Tuhan kepada para murid dan orang-orang lainnya selama empat puluh hari antara kebangkitan dan kenaikan-Nya adalah peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Yesus menggunakan penampakan-penampakan diri ini untuk membuktikan kepada para murid bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati, dan untuk mengajari mereka tentang natur dari kebangkitan-Nya dan karya yang akan Ia lakukan ketika ia naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah. Setiap penampakan diri ini diadaptasikan secara sempurna untuk tujuan dari penampakan itu sendiri. Maka Yesus menampakkan diri dalam bentuk-bentuk yang berbeda pada kesempatan-kesempatan yang berbeda (Mrk. 16:12; Yoh. 21:4). Pesan yang disampaikan Tuhan kepada mereka yang menerima penampakan diri-Nya adalah secara khusus diperuntukkan bagi mereka dan kebutuhan mereka pada saat itu. Ini juga menjelaskan mengapa para perempuan diizinkan untuk menjamah Yesus, sedangkan Maria Magdalena tidak diizinkan untuk melakukan hal yang sama.

Yesus menampakkan diri kepada para perempuan yang kembali dari kuburan itu untuk menunjukkan bahwa Ia benar-benar telah bangkit dari antara orang mati, untuk menjadikan benar-benar jelas bahwa Ia bukan setan atau hantu, dan memerintahkan kepada mereka untuk memberi tahu para murid-Nya bahwa Ia telah bangkit (Mat. 28:9-10). Maka para perempuan itu diizinkan untuk menjamah Yesus untuk membuat mereka yakin bahwa Ia memang adalah Tuhan yang sama dengan yang sebelumnya mereka kasihi dan layani.

Tetapi penampakan diri kepada Maria Magdalena memiliki tujuan yang berbeda. Maria Magdalena dipenuhi kasih yang mendalam kepada Tuhan, karena Tuhan telah mengusir tujuh roh jahat dari dirinya (Luk. 8:2; Mrk. 16:9). Ia telah menemukan panggilannya di dalam memperhatikan kebutuhan Yesus ketika Ia berkhotbah di Palestina (Mat. 27:55-56). Baginya, kematian Yesus teramat menyakitkan karena ia tidak bisa lagi melayani kebutuhan-kebutuhan Yesus, dan kematian Yesus telah membuat dia kehilangan tujuan hidupnya. Sekarang ia sangat ingin memberikan tanda kasihnya yang terakhir kepada Tuhannya dengan mempersiapkan tubuh-Nya secara semestinya untuk penguburan. Bahkan niat ini pun tidak bisa ia lakukan karena ada orang yang mencuri tubuh Yesus, sehingga ia benar-benar remuk hati.

Ketika Yesus menyatakan diri-Nya kepada Maria Magdalena, ia dipenuhi sukacita yang besar, karena ia sekarang dapat kembali melayani kebutuhan Tuhan di dunia ini. Maka Yesus harus memberitahunya bahwa pelayanan seperti itu tidak lagi dimungkinkan, karena Ia kembali ke dalam kehidupan ini bukan untuk pelayanan lain di dunia, tetapi bahwa Ia telah dibangkitkan dengan tubuh kebangkitan, yang disesuaikan untuk hidup di sorga. Dalam kenyataannya, Ia akan segera naik ke sorga di mana Ia tidak akan lagi ada bersama Maria – meskipun tinggalnya Yesus di sorga akan menjadi berkat yang lebih besar bagi Maria daripada pelayanan apa pun di dunia (Yoh. 20:17). Maka, Maria Magdalena tidak diizinkan untuk menjamah-Nya, karena motivasi Maria adalah ingin kembali melanjutkan pelayanan-pelayanannya di dunia ini.

Kita juga harus memperhatikan bahwa Maria Magdalena mengenali Tuhan bukan dengan melihat Dia, melainkan dengan mendengar suara-Nya ketika Tuhan memanggil namanya (Yoh. 20:16). Saat ini pun Yesus tetap memanggil umat kepunyaan-Nya dengan nama-nama mereka dari takhta-Nya di sorga di sebelah kanan Allah. Ia memanggil mereka melalui pemberitaan Injil dan melalui Roh di dalam hati mereka. Ia memanggil mereka bukan dengan nama-nama duniawi mereka, melainkan dengan nama-nama rohani mereka: mereka yang berjerih lelah dan berbeban berat, yang miskin dalam roh, yang lemah lembut, mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, dll. Dan ketika Ia memanggil umat kepunyaan-Nya dengan nama-nama mereka, mereka mengenali Dia – seperti Maria mengenali Dia ketika Ia memanggil dirinya. Maka, melalui salib dan kebangkitan-Nya, perkataan Yesus sendiri digenapi: “Tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya” (Yoh. 10:2-4).

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

Yesus Bangkit dan Menampakkan Diri

Apa yang menarik dari peristiwa penampakan Yesus setelah bangkit

Saudari/a terkasih dalam Kristus Tuhan, pada hari ini kita memasuki Minggu Paskah II serta juga Minggu Kerahiman Ilahi. Bagi orang Kristen, kebangkitan Kristus menjadi sangat penting karena ini dasar kekristenan. Landasan utama kehidupan iman adalah peristiwa kebangkitan. Bahkan para rasul memandang kalau tidak ada kebangkitan semua menjadi sia-sia atau tidak berarti apa-apa (Bdk 1 Kor 15:14).

Namun banyak orang berusaha untuk menggoyangkan serta meruntuhkan pondasi iman umat dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan : Yesus tidak pernah disalibkan, Yesus tidak pernah mati, yang mati adalah orang lain, Yesus tidak pernah bangkit dari kematian dan sebagainya.

Apa yang menarik dari peristiwa penampakan Yesus setelah bangkit

Pertanyaan : Apa benar Yesus disalibkan? Apa benar Yesus bangkit? Apa buktinya? Pertanyaan ini muncul karena dalam kenyataannya ada banyak orang ragu bahkan tidak percaya, bahwa Yesus memang benar-benar mati dan bangkit. Memang tidak sedikit juga ada orang ingin mencobai mereka yang mengimani hal tersebut.

Jelas bagi orang Yahudi, Yesus bukanlah Mesias, apalagi Tuhan. Sehingga mereka tidak mengakui kebangkitan Kristus. Sehingga mereka menyangkal dan tidak mempercayainya. Sejajar dengan pernyataan diatas adalah apa yang tercatat di injil Matius (28:11-15) bahwa penjaga makam dari pasukan Romawi yang menjadi saksi peristiwa kebangkitan telah dibayar oleh peminpin Yahudi untuk menceritakan suatu kebohongan atas kebangkitan Kristus.

Pada hari ini, Tuhan Yesus dengan kehadiran-Nya memberi jawab atas ketidakmengertian dan keraguan, bahkan ketakutan seperti yang dialami para murid akan kebangkitan-Nya. Ada dua cerita penampakan Yesus pada bacaan injil hari ini.

Pertama : kepada para murid yang sedang bersembunyi karena takut, Yesus hadir pada situasi ketakutan yang mereka alami dengan berkata, ”damai sejahtera…”. Sebuah sapaan yang dibutuhkan untuk mereka yang dalam situasi ketakutan. Kita bisa menyadari bahwa Yesus hadir tidak meremehkan ketakutan mereka atau mencela Petrus yang telah menyangkal-Nya. Tidak pula membuat mereka merasa bersalah atas ketakutan yang mereka alami.

Penampakan kedua yakni penampakan pada Thomas. Bisa kita tahu bahwa Thomas memang tidak hadir pada saat Yesus menampakkan diri kepada murid. Namun dalam satu sisi Thomas punya alasan tersendiri mengapa dia tidak hadir kala Yesus menampakkan diri. Thomas seorang pribadi yang tidak mudah percaya, namun bukan karena dia tidak mengimani sang Guru. Ketidakpercayaannya ditegaskan lewat kehadiran Sang Kristus kepadanya (Yoh 20:24-29). Disini tampak sekali lagi Yesus tidak menampilkan diri sebagai sosok yang mencela dan menyalahkannya. Disinilah iman yang begitu besar tampak dari Thomas lewat ucapannya : ‘’YA TUHAN DAN ALLAHKU’’. Lewat penampakan dan kehadiran Kristus yang menunjukkan luka-luka-Nya sebagai tanda Kerahiman-Nya sumber yang mengalirkan Rahmat kepada umat manusia.

Pertanyaan bagi kita : mampukah kita memberi jawab atas ketidakpercayaan dan keraguan akan kebangkitan Yesus bagi kita serta orang banyak? Dengan cara bagaimana kita bisa mewujudkannya? Khusus terhadap situasi yang kita alami saat ini (pandemi COVID-19). Semoga Tuhan tetap senantiasa menuntun dan memberkati perjalanan hidup kita.

Penulis : Sr. Loren SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa