Apa yang dimaksud dengan distance learning

Belajar didefinisikan dengan sangat beragam. Secara umum dan sederhana, belajar diartikan sebagai kegiatan yang melibatkan interaksi antara stimulus, yaitu apa yang diberikan guru untuk siswa, dan respon yang adalah tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru dalam bentuk perubahan perilaku. Secara lebih kompleks, belajar juga diartikan sebagai suatu proses internal yang meliputi sikap, nilai-nilai, ketertarikan, apresiasi bahkan perasaan sosial seseorang terhadap dunia nyata. Dengan kata lain, belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.

Bentuk nyata dari definisi belajar ini adalah kemunculan metode belajar dalam jaringan (daring), yang dikenal dengan istilah pembelajaran jarak jauh. Itu adalah bentuk pendidikan nonkonvensional dimana kegiatan belajar mengajar dilaksanakan tanpa tatap muka antara guru/instruktur dengan siswa di kelas. Sebaliknya, cara belajar ini menggunakan platform digital yang tersedia sebagai fasilitas komunikasi antara guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Sama seperti metode pembelajaran konvensional, kesuksesan metode belajar dalam jaringan ini juga dihasilkan oleh kerjasama yang baik antar pihak-pihak yang terlibat, antara lain siswa, guru, orang tua, dan institusi/sekolah.

Noble Academy percaya bahwa kecerdasan dan bakat istimewa menunjuk pada potensi siswa untuk menjadi pelajar mandiri yang secara aktif bertindak untuk mengenal dan memahami dunia yang mereka minati. Harapanya, mereka akan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat melalui karya-karya kreatif yang mereka hasilkan. Noble Academy berkomitmen menyediakan program yang disusun secara efektif dan sistematis. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dengan kecerdasan dan talenta istimewa sehingga mereka mampu mengaktualisasikan potensi mereka, sekalipun melalui metode pembelajaran jarak jauh.

Masa darurat pandemi Covid-19 yang sedang terjadi sekarang ini memaksa sekolah-sekolah di seluruh dunia termasuk Indonesia untuk berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan yang ada sekarang.  Merubah sistem pembelajaran dari sistem konvensional menjadi sistem jarak jauh merupakan langkah nyata yang dilakukan sekolah-dalam menghapai pandemic Covid-19. Sistem ini membuat kegiatan belajar dan mengajar tetap berlangsung meskipun dipisahkan oleh jarak.

Menanggapi peraturan pemerintah untuk sementara menghentikan kegiatan belajar-mengajar di sekolah karena pandemic Covid-19, Noble Academy segera menyediakan kegiatan belajar melalui jarak jauh bagi siswa. Para siswa diharuskan menghadiri kelas secara virtual selama lima hari dalam seminggu, dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Para guru memfasilitasi siswa dengan tugas harian dan proyek mandiri bulanan yang harus diselesaikan siswa sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Adapun aplikasi yang kami pakai untuk kelas jarak jauh adalah Google Classroom, Google Hangouts, dan Google Meet sebagai media komunikasi, pemberian dan juga pengumpulan tugas-tugas.

Pada awalnya, guru dan siswa di Noble Academy mengalami beberapa kesulitan tersendiri dalam pelaksanaan metode pembelajaran jarak jauh ini. Minggu pertama berlangsungnya program ini menjadi masa adaptasi bagi guru dan siswa Noble Academy. Gangguan teknis, gangguan motivasi dan konsentrasi siswa selama belajar, menjadi tantangan yang sering dihadapi. Tantangan lainya, siswa hadir terlambat di kelas virtual, tidak langsung merespon instruksi guru karena mungkin perhatian mereka terbagi dengan hal lain yang mereka temui di rumah atau koneksi internet yang tidak mendukung.

Sebagai upaya mengatasi kesulitan tersebut, guru menetapkan struktur dan prosedur belajar jarak jauh yang tentu berbeda dengan prosedur kelas reguler, kemudian secara konsisten melatih siswa menjalankan prosedur tersebut selama proses pembelajaran jarak jauh berlangsung. Solusi terbilang efektif dalam menjalankan metode pembelajaran sistem jarak jauh. Seiring berjalannya waktu, saat ini baik guru maupun siswa Noble Academy sudah mampu beradaptasi dengan baik.

Selain tantangan, guru-guru Noble Academy juga menemukan hal-hal menarik dari proses belajar jarak jauh. Satu diantaranya adalah fakta bahwa beberapa siswa Noble Academy menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi dengan metode belajar jarak jauh jika dibandingkan dengan metode belajar konvensional. Mereka mengaku bahwa kepercayaan diri dan konsentrasi belajar mereka muncul lebih baik saat mereka belajar dari rumah. Mereka siap menampakkan perkembangan kemampuan dan motivasi belajar mereka melalui metode pembelajaran dalam jaringan.

Pandemi ini menuntut kesigapan sekolah-sekolah untuk melaksanakan program belajar jarak jauh. Tidak hanya sekolah, siswa, guru bahkan orang tua juga dituntut untuk mau dan mampu bekerjasama dengan baik demi mencapai kesuksesan belajar menggunakan metode jarak jauh.

Noble Academy merasa bangga dan berterima kasih kepada para siswa atas kerja keras mereka sehingga semester ini bisa berjalan dengan baik sekalipun dengan metode jarak jauh. Semoga motivasi belajar dan produktivitas yang baik ini terus mereka pertahankan di semester-semester yang akan datang.

Noble Academy juga sangat mengapresiasi para guru yang telah memberikan segala upaya terbaik untuk memfasilitasi para siswa dengan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan belajar mereka dan mendampingi mereka selama proses belajar berlangsung. Yang tidak kalah pentingnya, Noble Academy berterima kasih atas kerjasama para orang tua siswa yang telah membantu mengawasi dan mendukung para siswa selama belajar dari rumah.

Salam sehat untuk kita semua.

Pendidikan jarak jauh (bahasa Inggris: distance education) adalah pendidikan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya. Pembelajaran elektronik (e-learning) atau pembelajaran daring (online) merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh yang secara khusus menggabungkan teknologi elektronika dan teknologi berbasis internet.[1]

Apa yang dimaksud dengan distance learning

Pelajar Meksiko yang mengambil pendidikan jarak jauh selama Pandemi COVID-19.

Kemajuan yang terjadi dalam dunia teknologi komunikasi dan informasi memunculkan peluang maupun tantangan baru dalam dunia pendidikan. Peluang baru yang muncul termasuk akses yang lebih luas terhadap konten multimedia yang lebih kaya, dan berkembangnya metode pembelajaran baru yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Di sisi lain kemajuan teknologi dengan beragam inovasi digital yang terus berkembang juga menghadirkan tantangan baru bagi penyelenggara pendidikan untuk terus menyesuaikan infrastruktur pendidikan dengan teknologi baru tersebut.[2]

Pendidikan jarak jauh bukan metode baru dalam sistem pendidikan. Metode pembelajaran ini telah digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1892 ketika Universitas Chicago meluncurkan program pembelajaran jarak jauh pertamanya untuk tingkat pendidikan tinggi. Metode pembelajaran jarak jauh terus berkembang dengan menggunakan beragam teknologi komunikasi dan informasi termasuk radio, televisi, satelit, dan internet.[3] Meluasnya penggunaan internet oleh publik di berbagai negara pada tahun 1996 menjadi suatu fenomena yang berkembang dan diikuti oleh kemunculan beragam konten digital di dalamnya.[4] Pada tahun yang sama, John Bourne mengembangkan Asychronous Learning Network Web yang merujuk kepada kemampuan untuk memberikan pendidikan kapan saja dan di mana saja melalui internet.[3]

Pendidikan merupakan suatu proses akademis yang bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai moral, sosial, budaya, dan agama sekaligus mempersiapkan peserta didik untuk mampu menghadapi berbagai tantangan dalam proses kehidupan. Dalam pendidikan terjadi proses komunikasi yang terorganisasi dan berkelanjutan untuk menumbuhkan aktivitas belajar dalam diri pembelajar sehingga pembelajar dapat mengembangkan kemampuannya dalam menemukan, mengolah, dan mengevaluasi berbagai informasi dan pengetahuan untuk kemudian berkontribusi dalam pencarian solusi atas masalah yang ada dan berpartisipasi aktif di masyarakat.[5] Dalam sistem pendidikan konvensional, metode yang digunakan adalah melalui pertemuan tatap muka antara pengajar dan peserta didik. Dengan kata lain, pengajar dan pembelajar berada di ruang yang sama pada waktu yang bersamaan juga untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi.

Karakteristik pendidikan konvensional

Pendidikan konvensional adalah pendidikan formal yang menggunakan sistem klasikal dalam menyampaikan materi ajar baik di sekolah, akademi, universitas, dan sejenisnya.[6] Beberapa karakteristik dasar dari sistem pendidikan konvensional antara lain:[7]

  • Pengajar dan peserta didik berada dalam ruang yang sama pada waktu yang sama untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar.
  • Kegiatan belajar-mengajar dilakukan dalam bentuk pertemuan tatap muka.
  • Pengajar menentukan tujuan belajar, materi ajar, dan evaluasi proses belajar dari peserta didiknya.
  • Proses komunikasi antara pengajar dan peserta didik dilakukan secara langsung atau bersifat analog.
  • Menitikberatkan pada peran pengajar sebagai sumber informasi dan dalam pengelolaan kelas selama proses belajar-mengajar berlangsung.[8]

Teknologi komunikasi dalam pendidikan konvensional

Dalam sistem pendidikan konvensional, teknologi komunikasi yang digunakan untuk mendukung proses belajar-mengajar mencakup baik teknologi analog maupun teknologi digital dengan titik berat pada proses penyampaian informasi secara analog. Teknologi analog merujuk kepada segala bentuk teknologi yang dibuat untuk menyerupai bentuk asli dan yang dapat ditangkap oleh pancaindra manusia, sedangkan teknologi digital merupakan teknologi berbasis komputerisasi yang basis datanya terdiri dari bilangan nol dan satu.[4]

Proses komunikasi yang berlangsung dalam pertemuan tatap muka menekankan pada interaksi dan relasi sosial yang terbangun di antara pengajar dan peserta didik. Pengajar menyampaikan materi ajar kepada peserta didik secara langsung dengan berbagai ekspresi dan gerakan (gesture) yang mendukungnya, dan peserta didik dapat memberikan tanggapan serta mengekspresikan diri secara langsung juga. Teknologi komunikasi penunjang yang biasanya digunakan dalam pendidikan konvensional mencakup antara lain kertas, buku, papan tulis, spidol, televisi, radio, alat peraga, komputer, proyektor, dan lain-lain.

Keunggulan dan kelemahan pendidikan konvensional

Keunggulan dari metode pendidikan konvensional antara lain:

  • Tingginya tingkat interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik yang akan mempercepat terbentuknya relasi dan nilai-nilai dalam proses belajar-mengajar.[9]
  • Pertemuan tatap muka antara pengajar dan peserta didik mendukung terselenggaranya proses belajar-mengajar yang terfokus dan terkontrol sehingga pembelajaran dapat dioptimalkan.[10]

Kelemahan dari metode pendidikan konvensional antara lain:

  • Kebergantungan kepada lokasi, tempat, dan kehadiran dari para peserta proses belajar-mengajar baik pengajar maupun peserta didik.
  • Biaya pendidikan relatif tinggi sebagai akibat dari timbulnya berbagai biaya untuk menunjang operasional sehari-hari pada lembaga penyelenggara pendidikan konvensional.

Pendidikan jarak jauh adalah suatu kajian kependidikan yang terus berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Karena itu juga pendidikan jarak jauh sering dipersepsikan sebagai suatu inovasi dalam metode pembelajaran abad 21 yang memiliki daya jangkau lintas ruang, waktu, dan sosioekonomi. Dengan adanya inovasi ini, masyarakat memiliki pilihan alternatif untuk mengakses pendidikan. Secara umum, pendidikan jarak jauh memiliki prinsip yang mencakup antara lain:[11]

  • Akses, yakni terkait dengan keinginan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan melalui penyelenggaraan pendidikan yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi, bersifat massal, ekonomis, serta meminimalkan kendala jarak dan waktu.
  • Pemerataan yang merujuk kepada asas keadilan dan persamaan hak bagi siapa saja untuk mengenyam pendidikan tanpa dibatasi oleh berbagai kendala.
  • Kualitas, yaitu berkenaan dengan jaminan standar pengajar, materi bahan ajar dan ujian, dan proses pembelajaran interaktif yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi.

Karakteristik pendidikan jarak jauh

Pendidikan jarak jauh memiliki beberapa karakteristik dasar, yaitu:[7]

  • Pengajar dan peserta didik tidak berada dalam satu ruang yang sama saat proses belajar-mengajar berlangsung.
  • Penyampaian materi ajar dan proses pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan media komunikasi dan informasi.
  • Menekankan pada cara belajar mandiri namun ada lembaga yang mengaturnya.
  • Keterbatasan pada pertemuan tatap muka. Biasanya pertemuan tatap muka dilakukan secara periodik antara peserta didik dengan pengajar atau tutor.
  • Fleksibilitas dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain masing-masing peserta didik dapat mengatur waktu belajarnya sendiri sesuai dengan ketersediaan waktu dan kesiapannya.

Teknologi komunikasi dalam pendidikan jarak jauh

Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi. Hal ini dikarenakan dalam pendidikan jarak jauh tidak terjadi kontak secara langsung antara pengajar dan peserta didik. Proses komunikasi antara keduanya dilakukan melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Walau demikian, pertemuan tatap muka tetap dapat dilakukan dengan frekuensi yang terbatas. Teknologi komunikasi dan informasi yang banyak digunakan dalam pendidikan jarak jauh adalah komputer dan internet.

Pemanfaatan komputer dan internet memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengakses materi-materi ajar yang juga sudah dikemas dalam bentuk digital di mana pun dan kapan pun. Dengan menggunakan komputer dan internet juga, pengajar dan peserta didik dapat melakukan interaksi baik menggunakan aplikasi surat elektronik, video konferensi, atau forum diskusi dalam jaringan.[12] Meski penggunaan berbagai teknologi digital dalam pendidikan jarak jauh membuat batas-batas geografis seakan lenyap, namun proses komunikasi yang dimediasi oleh komputer dan internet memiliki keterbatasan dalam menangkap ekspresi dan gerakan (gesture) dari pengajar dan peserta didik. Teknologi komunikasi pendukung lainnya yang digunakan untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh antara lain buku elektronik, compact disc (CD) atau digital versatile disc (DVD) untuk rekaman audio dan video, dan perangkat pengolah informasi seperti tablet atau laptop.

Keunggulan dan kelemahan pendidikan jarak jauh

Keunggulan dari metode pendidikan jarak jauh antara lain:

  • Proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa dibatasi oleh keharusan pengajar dan peserta didik untuk berada di ruang dan waktu yang sama.
  • Penggunaan teknologi komunikasi dan informasi sebagai media pembelajaran menimbulkan biaya yang lebih rendah baik bagi penyelenggara pendidikan jarak jauh maupun peserta didik.
  • Materi ajar dan berbagai interaksi dalam bentuk tulisan yang dikemas secara digital memungkinkan peserta didik untuk dapat membaca kembali informasi yang tercatat di dalamnya.

Kelemahan dari metode pendidikan jarak jauh antara lain:

  • Minimnya kontak langsung antara pengajar dan peserta didik memperlambat proses terbangunnya relasi sosial dan nilai-nilai yang menjadi tujuan dasar dari pendidikan.
  • Rendahnya kontrol terhadap proses pembelajaran sebagai impikasi dari cara belajar mandiri yang menjadi titik berat dari pendidikan jarak jauh.
  • Keterbatasan teknologi komunikasi dan informasi yang tidak dapat menggantikan sepenuhnya proses komunikasi dan interaksi secara langsung yang terjadi dalam pendidikan konvensional.

Jumlah penduduk Indonesia berkisar 250 juta jiwa dan membuat Indonesia menjadi negara dengan kepadatan penduduk terbesar keempat di dunia. Menurut estimasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi penduduk Indonesia akan terus meningkat dan akan mencapai 290 juta jiwa pada tahun 2045. Dengan laju pertambahan penduduk Indonesia setiap tahunnya berada di angka 2.5 persen juga akan terus menambah jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64) di masa mendatang. Struktur usia yang mendominasi komposisi penduduk Indonesia adalah kelompok usia produktif dengan rata-rata usia penduduknya adalah 28.2 tahun pada tahun 2011. Angka tersebut merupakan median age yang berarti setengah dari populasi Indonesia berada pada usia 28.2 tahun lebih dan separuhnya lagi berusia di bawah 28.2 tahun. Kelompok usia muda akan dapat menjadi pilar kekuatan kerja Indonesia dengan kondisi bahwa kelompok usia tersebut mendapatkan pendidikan yang baik dan kesempatan kerja yang memadai juga.[13]

Sebagai negara kepulauan, Indonesia terdiri dari 13.487 pulau dengan 6000 di antaranya masih tidak berpenghuni. Setengah dari penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa memilih untuk tinggal di pulau Jawa walau luas pulau Jawa hanya 6,9 persen dari total 37 persen luas daratan di Indonesia. Besarnya kepulauan di Indonesia yang disertai dengan pembangunan yang belum merata mengakibatkan tidak meratanya juga infrastruktur dan fasilitas di berbagai bidang termasuk pendidikan. Keterbatasan jumlah perguruan tinggi di suatu pulau kerap mendorong sebagian penduduk memilih untuk mengenyam pendidikan tinggi di pulau lainnya. Implikasi yang timbul dari pilihan tersebut adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan bukan hanya untuk pendidikan yang akan ditempuh, melainkan juga untuk biaya hidup lainnya.

Metode pendidikan secara tatap muka dikenal sebagai model utama pendidikan. Namun demikian, pendidikan jarak jauh juga sudah lama berkembang khususnya dengan peserta didik usia dewasa. Di Indonesia, pembelajaran jarak jauh (distance learning) adalah bagian dari pendidikan jarak jauh (distance education) yang telah diatur dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 terkait sistem pendidikan nasional.

Perguruan tinggi di Indonesia

Berdasarkan data DIKTI dan Kemendikbud, jumlah lembaga perguruan tinggi di Indonesia adalah 4.273, sementara jumlah siswa lulusan SMA dan SMK pada tahun 2014 adalah 2.804.664.[14][15] Lembaga perguruan tinggi di Indonesia memiliki daya tampung yang terbatas untuk menyerap siswa lulusan SMA dan SMK, yaitu hanya sekitar 50 persen saja. Akumulasi siswa lulusan SMA dan SMK yang tidak terserap akan terus meningkat setiap tahunnya jika daya tampung lembaga perguruan tinggi tidak ditingkatkan dan kendala keterbatasan finansial bagi sebagian penduduk belum teratasi. Berbagai strategi diupayakan untuk meningkatkan daya tampung perguruan tinggi melalui penambahan perguruan tinggi maupun pengembangan sistem pendidikan jarak jauh untuk memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia.

Angka partisipasi perguruan tinggi

Angka partisipasi kasar (APK) adalah perbandingan jumlah peserta didik di jenjang tertentu dengan jumlah penduduk dalam kelompok umur yang sesuai. APK perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2014 hanya mencapai 30 persen. Yang termasuk dalam kategori APK ini adalah jumlah penduduk berusia 19-23 tahun yang sudah mengenyam pendidikan tinggi. Meski APK perguruan tinggi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun, tetapi persentasenya masih terbilang rendah. APK perguruan tinggi Indonesia berada di bawah Malaysia, yaitu 60 persen dan Korea Selatan, yakni 90 persen. APK perguruan tinggi Indonesia diperkirakan akan meningkat signifikan ke angka 60-70 persen pada tahun 2045.[15] Dengan dikembangkannya sistem pendidikan jarak jauh yang tidak dibatasi jarak geografis dan dengan biaya yang relatif lebih rendah diharapkan akan meningkatkan layanan pendidikan bagi kelompok penduduk yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional secara tatap muka.

Penyelenggara pendidikan tinggi jarak jauh

Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia pada mulanya hanya terbatas pada Universitas Terbuka yang menyediakan layanan pendidikan tanpa mengharuskan pengajar dan peserta didik untuk berada dalam ruang yang sama guna mengikuti proses belajar-mengajar. Seiring dengan upaya perluasan akses pendidikan tinggi di Indonesia, pemerintah Indonesia memberikan terobosan dengan mengizinkan perguruan tinggi lainnya untuk mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan kriteria dan persyaratan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 24 tahun 2012 tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada perguruan tinggi. Dengan dikeluarkannya kebijakan ini, lembaga-lembaga yang semula hanya menyelenggarakan pendidikan konvensional mulai mengembangkan program pendidikan jarak jauh.

Beberapa lembaga perguruan tinggi di Indonesia yang telah memiliki program pendidikan jarak jauh antara lain:

  • Universitas Indonesia
  • Institut Teknologi Bandung
  • Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • Universitas Gadjah Mada
  • STMIK AMIKOM Yogyakarta
  • Universitas Bina Nusantara
  • London School of Public Relations
  • Universitas Al-Azhar Indonesia

Masa depan pendidikan jarak jauh

Seiring kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang terus berkembang, metode pendidikan bermediasikan komputer dan internet khususnya, tidak lagi dianggap sebagai suatu teknologi eksperimental karena pendidikan tinggi perlu mempertimbangkan pertumbuhan peserta didik di era serba digital dan berbasis pengetahuan yang kompetitif ini. Pendidikan jarak jauh dapat melayani lebih banyak peserta didik sehingga diperkirakan sistem pendidikan ini akan terus berkembang di banyak lembaga pendidikan tinggi. Keberhasilannya akan turut ditentukan bukan hanya oleh ketersediaan teknologi komunikasi dan informasi, melainkan juga oleh kualitas materi ajar, pengajar, peserta didik, metode pedagogi, interaksi yang dapat diakomodir, dan sistem pendukung lainnya yang dibangun oleh penyelenggara pendidikan jarak jauh.[16]

Terlepas dari teknologi digital dapat mengatasi kendala jarak geografis dalam rangka terselenggaranya proses belajar-mengajar, namun ada komunikasi yang tidak dapat digantikan oleh penggunaan teknologi digital. Ada jenis komunikasi yang tetap mengharuskan komunikator dan komunikan duduk di ruangan yang sama dan berinteraksi satu sama lain. Bahkan teknologi layar video definisi tinggi atau hologram tiga dimensi tidak akan dapat menggantikan sepenuhnya komunikasi konvensional secara tatap muka. Dengan kata lain, pertemuan langsung tetap diperlukan dalam kondisi-kondisi tertentu, termasuk dalam proses belajar-mengajar. Itulah sebabnya metode pendidikan jarak jauh tidak akan menggantikan pembelajaran maupun komunikasi langsung dan secara pribadi. Pendidikan jarak jauh akan meningkatkan sistem pendidikan konvensional, namun tidak akan menghilangkannya.[17]

Ramalan masa depan pendidikan jarak jauh dalam metode Delfi

Dalam upaya untuk mengidentifikasi dan memprediksi tren yang akan muncul dalam suatu lingkungan tertentu, para perencana organisasi biasanya melihat sejumlah alat strategi pembangunan termasuk metode Delfi untuk membantu organisasi dalam memutuskan dan membuat perencanaan. Metode Delfi dipandang baik digunakan sebagai alat peramalan masa depan yang berguna untuk mengetahui masalah yang menjadi fokus riset para ahli di bidangnya, bukan sekadar fokus dari populasi masyarakat pada umumnya. Metode Delfi dibentuk untuk mencari tahu konsensus umum para ahli tentang suatu isu di masa depan. Karena metode Delfi memberikan gambaran yang cukup jelas tentang ke mana organisasi akan mengarah dan apa yang mungkin dilakukan di masa depan, metode ini sangat berguna dalam perencanaan skenario, termasuk dalam bidang pendidikan tinggi dan pendaftaran peserta didik.[18]

Salah satu hasil penelusuran pandangan dan opini para ahli dalam bidang pendidikan jarak jauh dikemukakan oleh Noa Aharony dan Jenny Bronstein dari Universitas Bar-Ilan. Dalam tulisannya yang berjudul “Sebuah Investigasi Delfi terkait Masa Depan Pendidikan Jarak Jauh” (A Delphi Investigation into the Future of Distance Education) diperoleh informasi bahwa dari 35 ahli yang diminta untuk menilai 16 pernyataan sesuai dengan apa yang mereka pikir mungkin akan terjadi (probabilitas) dan apa yang mereka ingin lihat terjadi (keinginan), temuan menunjukkan mayoritas ahli meramalkan bahwa penggunaan teknologi baru akan mengubah teori dan metodologi pendidikan konvensional. Hal ini akan berdampak pada keterampilan dan upaya para pengajar, umpan balik, interaksi dan proses penilaian pembelajaran. Namun terkait masa depan pendidikan jarak jauh, para ahli melihat terlepas dari adanya kecenderungan penyediaan layanan pendidikan jarak jauh formal secara penuh di masa depan, tetapi para ahli ragu bahwa pendidikan jarak jauh akan sepenuhnya menggantikan pendidikan konvensional. Selain itu, para ahli juga melihat peran teknologi seluler dan jejaring sosial sebagai fasilitator dalam proses berbagi informasi dalam sistem pendidikan jarak jauh yang menciptakan suasana kerja sama dan interaksi yang mudah di antara pengguna. Para ahli berpandangan bahwa asimilasi teknologi seluler dan jejaring sosial akan mempengaruhi metode pendidikan jarak jauh dan pedagogi.[19]

Masa depan pendidikan jarak jauh di Indonesia

Rendahnya angka partisipasi perguruan tinggi di Indonesia yang merupakan implikasi dari keterbatasan daya tampung perguruan tinggi dan faktor kemampuan finansial yang tidak merata mendorong pemerintah Indonesia mengupayakan perluasan akses pendidikan bagi kelompok masyarakat di berbagai wilayah. Pendidikan jarak jauh dipandang sebagai salah satu solusi yang memungkinkan untuk meningkatkan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi di Indonesia. Sistem pendidikan jarak jauh memiliki fleksibilitas yang tinggi, daya jangkau yang luas, dan lebih terjangkau daripada pendidikan konvensional. Keseriusan pemerintah Indonesia dalam mengembangkan pendidikan jarak jauh sebagai bagian dari sistem pendidikan di Indonesia ditunjukkan dengan dikeluarkannya berbagai produk hukum yang ikut mengatur pendidikan jarak jauh, antara lain:

  • Undang-undang (UU) nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi
  • UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
  • Peraturan pemerintah (PP) nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan
  • Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) nomor 109 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada pendidikan tinggi
  • Permendikbud nomor 20 tahun 2011 tentang penyelenggaraan program studi di luar domisili perguruan tinggi

Upaya untuk meningkatkan pemerataan akses pendidikan tinggi di Indonesia juga direspon baik oleh para penyelenggara pendidikan konvensional. Beberapa penyelenggara pendidikan konvensional mulai turut mengembangkan sistem pendidikan jarak jauh ini. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan jarak jauh di Indonesia adalah kesiapan infrastruktur teknologi komunikasi dan informasi, khususnya ketersediaan koneksi internet. Meski konektivitas jaringan internet di berbagai wilayah Indonesia sudah cukup baik, namun masih ada wilayah-wilayah yang masih belum dapat terhubung dengan internet. Pemerintah Indonesia berusaha menyiasatinya melalui program pengadaan satelit yang ditargetkan akan selesai dan dapat digunakan pada tahun 2016.

Penyelenggaran pendidikan jarak jauh di Indonesia tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pendidikan konvensional secara tatap muka karena tujuan penyelenggaraanya adalah untuk memberikan layanan pendidikan tinggi kepada masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka dan memperluas akses serta mempermudah layanan pendidikan tinggi sebagaimana termaktub dalam Permendikbud nomor 109 tahun 2013.[20]

  • Emerging Leadership Roles in Distance Education
  • Research and Evaluation Needs for Distance Education
  • Futuring for Optimum Outcomes in Higher Education Diarsipkan 2015-09-25 di Wayback Machine.
  • Adaptive and Engaging Learning Diarsipkan 2015-09-25 di Wayback Machine.
  • Trends in Distance Education Research
  • Distance Learning and the Future of Education

  1. ^ Simonson, M., Smaldino, S., Albright, M.,& Zvacek, S. (2006). Teaching and learning at a distance: Foundations of distance education (3rd ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson
  2. ^ http://edweek.org/ew/issues/technology-in-education/ Diakses 20 September 2015
  3. ^ a b http://evolution-of-distance-learning.com/ Diarsipkan 2015-11-10 di Wayback Machine. Diakses 20 September 2015
  4. ^ a b Grant, A.E. & Meadows, J.H. (2010). Communication Technology Update and Fundamentals. 12th Edition.Focal Press:
  5. ^ Munir. (2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta. (hlm.1)
  6. ^ Kemdikbud. (2011). Modul Satuan Pembelajaran Seri Pengembangan Bahan Belajar Mandiri. [1] Diakses 22 September 2015
  7. ^ a b Kemdikbud. (2011). Modul Satuan Pembelajaran Seri Pengembangan Bahan Belajar Mandiri [2] Diakses 22 September 2015
  8. ^ Munir. (2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta. (hlm.18-19)
  9. ^ Rachmat, Edy. (2011). “E-Learning & Sistem Pendidikan Konvensional” [3][pranala nonaktif permanen] Diakses 22 September 2015
  10. ^ Frey, Thomas. (2007). “The Future of Education” [4] Diakses 20 September 2015
  11. ^ DIKTI. (2011). “Panduan PJJ” [5] Diakses 21 September 2015
  12. ^ Munir. (2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta. (hlm.45)
  13. ^ Gusti. (2014). “Bonus Demografi Belum Diimbangi Pertumbuhan Lapangan Kerja.” [6] Diakses 20 September 2015
  14. ^ Surjono, Herman Dwi. (2015). “Adaptive and Engaging E-Learning: Inovasi Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Pendidikan Jarak Jauh” [7] Diarsipkan 2015-09-25 di Wayback Machine. Diakses 9 Mei 2015
  15. ^ a b Kompas. (2015). “Mengapa Perkuliahan Sistem Online Cocok untuk Indonesia?” [8] Diakses 9 Mei 2015
  16. ^ Portugal, Lisa Marie. (2006). “Emerging Leadership Roles in Distance Education: Current State of Affairs and Forecasting Future Trend” dalam Online Journal of Distance Learning Administration, Volume IX, Number III, Fall 2006. University of West Georgia: Distance Education Center. [9] Diakses 20 September 2015
  17. ^ Cohen, Steven. (2012). “Distance Learning and the Future of Education.” [10] Diakses 20 September 2015
  18. ^ Rollins, Lisa L. (2014). “Futuring for Optimum Outcomes in Higher Education: Addressing the Needs of Today’s Adult Learners.” Dalam Journal of Social Sciences (COES&RJ-JSS). ISSN (E):2305-9249 ISSN (P):2305-9494. Centre of Excellence for Scientific & Research Journalism Mainpage.htm Diarsipkan 2015-09-25 di Wayback Machine. Diakses 20 September 2015
  19. ^ Aharony, Noa & Bronstein, Jenny. (2012). “A Delphi Investigation into the Future of Distance Education.” [11] Diakses 20 September 2015
  20. ^ Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 109 tahun 2013 tentang “Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi”

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pendidikan_jarak_jauh&oldid=20445414"